Jalan Panjang…

Lelah, itu kata yang pantas aku ucapkan meski ada banyak kebahagiaan yang aku dapat. Kemarin memang membuatku bosan berada di kosan. Awalnya aku ingin menonton salah satu film favoritku, Eclipse. Berusahalah aku mencari partner untuk menontonnya. Tapi sayang, tak satu pun dari beberapa teman yang aku ajak mau menemaniku. Akhirnya aku putuskan untuk tetap berdiam di kosan. Tidur, itulah yang aku lakukan di kosan. Sampai akhirnya aku terbangun dan sebuah sms bertengger di HP’ku. Nisa, itu nama yang muncul di Inbox’ku. Dia menawarkan perjalanan menuju PRJ. Aku pun menyetujui ajakannya.

Butuh waktu hampir satu jam untuk bersiap. Tepat pukul 16.30 aku berangkat ke tempat yang kami sepakati untuk bertemu. Hampir setengah jam aku menunggu Nisa di depan Al-Amin. Kami berangkat bersama pukul 17.00. Tujuan pertama kami adalah stasiun Bogor. Dengan krl ekonomi ac kami berangkat ke Jakarta. Ternyata krl yang kami naiki adalah krl jurusan Tanah Abang. Kami turun di Manggarai untuk transit dan mengganti krl. Beberapa menit kemudian krl tujuan Jakarta Kota tiba di Manggarai. Kami pun naik dan turun di Juanda sesuai petunjuk dari teman kami.

Kebingungan harus naik apa, kami pun bertanya pada orang di stasiun yang ternyata pendatang juga. Alhasil, dia tidak bisa memberikan bantuan apa-apa. Aku memutuskan untuk menghubungi teman yang tinggal di Jakarta. Teman yang pertama aku hubungi tidak begitu paham tentang transportasi di sekitar kami berada. Lalu aku menghubungi teman berikutnya yang sedikit membantu. Menunggu kabar selanjutnya darinya, kami memutuskan bertanya di kantor polisi. Dari semua saran, kami pun naik bajaj dengan tarif yang semula 25ribu menjadi 15ribu.

Senangnya, pertama kali bagiku menaiki kendaraan itu. Malam di Jakarta, sungguh menyenangkan. Kami sampai di PRJ sekitar pukul 20.15. Kami pikir untuk masuk PRJ tanpa biaya alias gratis. Ternyata eh ternyata kami harus merogoh kocek sebesar 20ribu. Kami diberi masing-masing satu tiket dan voucher. Masuklah kami ke PRJ.

PRJ itu tak lebih dari sekedar MOL (pikir kami). Untuk apa susah-susah ke Jakarta dan bayar 20ribu kalau hanya untuk melihat MOL. Kami memilih baju yang ada di MOL yang kami pikir PRJ sesungguhnya. Aku membeli sebuah baju yang mungkin relatif murah. Semua orang membawa bingkisan yang berisi makanan. Kami bingung dimana bisa mendapatkannya. Kami turun dan mencari asal orang-orang membawa bingkisan itu.

Dan aku sedikit terkejut, ternyata itu PRJ yang sesungguhnya. Kami berjalan-jalan melihat-lihat sekeliling. Ingin menukarkan voucher yang kami dapatkan, kami pun mengunjungi stand-stand yang vouchernya tertera pada kumpulan voucher kami. Nisa bertanya pada pelayan sebuah stand, “Mba, voucher yang 5ribu yang mana?” dan pelayan itu menjawab dengan acuh, “Belanja 55ribu dulu baru dapat”. Jadi, itu artinya bukan gratis, oh percuma…

Kami mengurungkan niat untuk menggunakan voucher-voucher kami. Aku membeli satu potong paparon (makanan kesukaanku, salah satunya). Tapi, kami menggunakan juga voucher kami untuk membeli minuman. Lumayan lah…

Lapar rasanya, kemudian kami mencari stand makanan. Sayangnya, harga tidak sesuai dengan kantong kami. Paket hemat menjadi pilihan kami. Ujung-ujungnya makan pop mie dan sebotol teh. Mau beli kerak telor, harganya 15ribu, melebihi harga paket hemat kami. Terang saja kami tidak jadi membelinya. Setelah kenyang, kami melihat-lihat stand tas dan dompet. Nisa memburu sebuah dompet dan aku hanya memilih-milih tanpa memutuskan untuk membeli.

Lalu, kami menuju area konser dan menonton Saykoji. Sangat menyenangkan, sampai-sampai aku terkesima dibuat olehnya. Pukul 23.30, jamku menunjukkan sudah larut malam. Aku mengingat perkataan satpam di stasiun bahwa krl terakhir yang ke Bogor pada pukul 22.30, itu tandanya kami sudah ketinggalan kereta. Ya sudahlah…

Konser berakhir dan kami berjalan keluar arena PRJ tanpa tujuan yang pasti. Kami menanyakan pada polisi tentang penginapan. Polisi itu menunjukkan arah senen. Kami berjalan tanpa jelas arahnya. Di persimpangan jalan kami harus menentukan mau berjalan lurus atau belok kiri. Kami memutuskan untuk berjalan lurus. Mungkin aneh untuk beberapa masyarakat Ibukota, melihat kami berkerudung, karena sepanjang jalan kami terus diganggu. Panjang sekali perjalanan kami, hingga kami sampai di Pademangan. Parahnya, dan itu membuatku tidak sanggup menahan tawa, ternyata setelah berjalan jauh, kami kembali ke daerah dimana kami memulai perjalanan. Oh Tuhan, tidak sadar rasanya kami saat itu. Jalan terakhir yang kami tempu adalah naik bajaj, yah setelah beberapa tawaran bantuan sepanjang perjalanan kami. Mulai dari dipaksa seorang pengendara motor untuk menumpang, diikuti mobil karena ingin diberi tumpangan, sampai beberapa tawaran naik bajaj. Kami menanyakan penginapan pada sopir bajaj tersebut. Sopir itu bersedia mengantarkan kami ke penginapan. Berputar-putar, dan herannya semua hotel penuh. Mengerikan sekali hotel-hotel itu, seperti untuk orang-orang yang butuh beberapa jam untuk mendiami kamar. Hotel murah penuh semua. Sopir bajaj itu menawarkan hotel mahal dan kaget bukan main saat mengetahui kalau biaya semalamnya mencapai 600ribu. Gila aja, bisa buat makan sebulan di Bogor, hahaha :)

Kami memutuskan untuk pulang ke Bogor saat itu juga. Pukul 12.30 kalau tidak salah. Sopir bajaj bersedia mengantarkan kami ke kampung melayu untuk mencari kendaraan. Sampai di tujuan kendaraan yang kami cari tidak ada. Ada ojek yang menawarkan jasa dengan ongkos 20ribu untuk ke UKI. Tapi kami menolak dan kami naik taxi. Kami mengucapkan terima kasih pada sopir bajaj itu, karena telah menolong kami.

Di dalam taxi kami semakin kalang kabut melihat argo yang terus berjalan tanpa henti. 10ribu, 20ribu, dan akhirnya berhenti di angka 31ribu. Oh God, uangku…

Di UKI kami naik mobil jurusan Bogor dengan ongkos 10ribu. Duduk di belakang dan hanya kami berdua kartini yang ada. Huh, menakutkan.Tapi lelah sudah tidak tertahan dan kami tertidur beberapa saat. Akhirnya sampai juga di Bogor, ke Laladon, dan akhirnya Darmaga-Bara-Kosan…

Benar-benar melelahkan. Bersih-bersih sebentar, nonton TV sambil istirahat. Pengalaman yang luar biasa takkan terlupakan. Menguras tenaga, pikiran, perasaan, dan uang. Sungguh menyenangkan… :)

Tapi aku harap perjalananku berikutnya tidak seburuk perjalanan ini…

Posted in Education | Tinggalkan komentar

Apa kata mereka???

Entah cerita apa yang akan aku hadapi selanjutnya. Kesulitan, kebahagiaan, cobaan, atau apa saja yang mungkin Tuhan berikan padaku. Dulu tidak pernah terpikirkan olehku bahwa aku akan berada di kota ini. Aku pikir seumur hidupku akan aku habiskan di kota itu, Sumbawa. Kota yang sungguh tidak akan pernah terlupa olehku. Aku tahu dimana aku sekarang, aku tahu siapa aku, dan aku tidak akan pernah lupa asalku.

Begitu banyak cerita yang aku lewati, mulai dari sebelas tahun aku di Sumbawa, sembilan tahun di Cilacap, hingga dua tahun terakhir ini di Bogor.

Jika kota-kota itu bisa berkata, aku sungguh ingin menanyakan apa kata Sumbawa tentangku, apa kata Cilacap tentangku, dan apa kata Bogor tentangku.

Sungguh hidup ini rahasia Illahi. Tak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Semua menjadi suratannya. Bahkan pikiranku yang begitu kecil diusiaku yang sudah terlampau jauh untuk dikategorikan remaja. Berusaha ku atur rencana-rencana hidupku, tapi tetaplah Dia yang menentukan.

Apa mungkin ada kota lain yang ingin menilaiku???

Mataram, Denpasar, Surabaya, Jogja, Semarang, Purwokerto, Jakarta, Bandung, atau…

Posted in My area.. | Tinggalkan komentar

Maaf & Terima Kasihku Padamu… :)

Tuhan memang memberikan hasil sesuai usaha kita. Begitu juga dengan diriku. Hasil akhir yang aku dapatkan sesuai usahaku. Aku sudah berusaha sekuat yang aku mampu. Tapi maaf jika ternyata aku menganaktirikanmu. Sungguh tiada daya untuk mengulang waktu membenahi salahku padamu. Meski semua sudah sangat terprediksi, tetap saja rasa bersalah ini menggunung sejadi-jadinya. Penyesalan tiada guna…

Hasil akhir sudah ditetapkan. Aku bersedih karena timpangnya usahaku untuk membuatmu tersenyum manis padaku diakhir. Mungkin kau kecewa padaku. Aku memang telah mengabaikan prosesmu. Dan pada akhirnya kau yang tersisih di antara semuanya. Bahkan kau terpuruk di antara senyum-senyum manis yang lainnya.

Maaf telah mengabaikanmu ! Harap kau mengerti dan bisa memahamiku. Paling tidak itu bisa membantuku untuk bisa merelakan dan mengikhlaskanmu. Aku berjanji tidak akan mengulang hal serupa pada yang lainnya diwaktu mendatang. Tidak peduli bagaimana hasilnya, aku tidak akan pernah mengabaikan mereka seperti aku mengabaikanmu.

Terima kasih karena dalam enam bulan terakhir ini sudah menjadi bagian dari hari-hariku. Kau menyadarkanku betapa tidak satuun dari bagian hidupku bisa aku sisihkan. Semoga kau tidak menyesal pernah bersentuhan denganku. Dan aku harap kau tetap mau mengiringi langkah suksesku, kemarin, sekarang, esok, dan selamanya.

Maafkan aku Komasku, Terima kasih “Komunikasi Massa”.. :)

Posted in Education | 2 Komentar

September…

Ukh, itu bulan kelahiranku. Bulan yang tiap kali aku menyebut nama depanku selalu terngiang-ngiang. September Ceria adalah satu lagu yang selalu mengingatkanku betapa cerianya bulan kelahiranku itu. Ada yang mengatakan bahwa lagu itu diciptakan oleh Vina Panduwinata karna pada bulan tersebut begitu banyaknya kelahiran. I hope so…

Lagu ini yang selalu mengingatkanku betapa hidupku harus selalu ceria :)

“September Ceria”

By: Vina Panduwinata

di pucuk kemarau panjang
yang bersinar menyakitkan
kau datang menghantar
berjuta kesejukan

kasih ..
kau beri udara untuk nafasku
kau beri warna bagi kelabu jiwaku
tatkala butiran hujan
mengusik impian semu
kau hadir di sini
di batas kerinduanku

kasih ..
kau singkap tirai kabut di hatiku
kau isi harapan baru untuk menyongsong
harapan bersama
september ceria .. september ceria ..
september ceria .. september ceria ..
milik kita bersama
ketika rembulan bersinar
di hamparan citra biru
kutatap sebersit isyarat dimatamu

kasih ..
kau sibak sepi di sanubariku
kau bawa dku berani dalam asmara
dan mendamba bahagia
september ceria .. september ceria ..
september ceria .. september ceria ..
milik kita bersama

Posted in Entertaint | Tinggalkan komentar

Holiday

Dari Cilacap sekarang menetap di Bogor. Bayanganku akan sangat menyenangkan tinggal di kota besar ini. Tapi dengan segudang masalah kota yang dapat meningkatkan tingkat stressku, bagaimana mungkin sekarang aku bisa mengatakan betapa lebih menyenangkannya tinggal di kota ini daripada di tempat keluargaku berada saat ini.

Macet, padat, keras…

Mana bisa aku berkata aku menyukai tempat ini. Aku tetap bahagia dan bertahan di kota ini bukan karna itu, tapi karna betapa pun menyebalkannya suasana yang aku rasakan, tapi suasana yang diberikan orang-orang di sekitarku membuatku mampu untuk tidak berkutik meninggalkan tempat ini.

Kepenatan akan aktivitas sehari-hari kemarin sangat terbayar dengan perjalananku bersama teman-teman sekontrakan ke Bandung dan Puncak.

Mengawali persiapan pada pukul 05.30 dan harus menunggu selama hampir 4 jam untuk seorang teman. Kami memang berangkat pukul 07.00 dari kontrakan, tapi… akhirnya harus menunggu beberapa jam di stasun Bogor. Alhasil kami sarapan di stasiun dengan menu alakadarnya.

Menunggu memang hal yang paling menyebalkan. Tapi karna menunggu seorang teman, setelah mereka datang, rasa lelah pun hilang. Kami pun berangkat ke Bandung. Rute yang kami tempuh awalnya adalah jalur puncak. Tentu saja akhirnya kami berganti arah dan memutuskan menggunakan rute TOL. Macet tak tertahankan ketika kami akan memasuki jalur puncak. Bisa stress aku kalau saja kami tetap memaksa melewati jalur itu.

Wow.. Adrenalin terpacu kencang !!! Bang sopir menyetis seolah-olah kami sedang berada di sirkuit sentul. Salip sana, salip sini. Hiiiiiiiiiiiiiii..

Perjalanan Bogor-Bandung hanya memakan waktu 3 jam akibat dari ulah pembalap kami. Tujuan utama kami adalah daerah Ciwidey, yaitu Kawah Putih. Berhubung belum ada yang pernah ke sana, kami beberapa kali berhenti untuk menanyakan arah. Bandung juga macet, meski tak separah Bogor. Setelah memasuki daerah Ciwidey, kami beristirahat sejenak di kebun strawbery.

Menyenangkan sekali bisa langsung makan strawbery setelah memetiknya. segeeeeeerrr :)

Berfoto-foto, bermain, makan strawbery.. asiiikk

Kami juga menyempatkan diri makan bakso malang di dekat kebun. Lalu kami melanjutkan perjalanan setelah selesai solat Dzhuhur. Tanjakan semua rupanya. Dan betapa girangnya kami saat tulisan “Kawah Putih” terlihat dari dalam mobil. Uahhh seneeeeng..

Kami masuk untuk membeli tiket dan betapa syoknya kami ketika petugas mengatakan harga tiket per orang Rp 25.000,- dan total kocek yang harus kami keluarkan agar bisa masuk menggunakan mobil kami adalah Rp 210.000,-

Ohh, habislah uang di kantong. Untung saja Kak Rauf (Dini’s Husband) mau bernego dengan petugas yang memang sengaja mengambil untung dari kami. Kami masuk dengan membayar Rp 150.000,- (simpulkan sendiri !!!)

Jauh juga masuk ke dalam. Sepanjang perjalanan kami sangat bahagia. Dan sesampainya di Kawah Putih, kami bersorak kegirangan. Kami turun dari mobil dan mulai berfoto-foto. Airnya hijau, tapi baunya minta ampun :(

Sekitar 1 jam lebih kami berfoto-foto di sana. Setelah solat Ashar, kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung kota. Tujuan kami berikutnya adalah Ciwalk.

Dalam perjalanan Ciwalk penyakit kampungku kambuh. Gara-gara macet, aku muntah. Huaaahhh, sebel. Untung macetnya cepat berakhir. Kami berbelanja, makan, dan jalan-jalan di Ciwalk. Makannya makanan kesukaanku, ayam goreng. Tepat pukul 21.30 kami beranjak untuk kembali ke Bogor. Karna lelah, kami pun tertidur. Sesampainya di Puncak, kami berhenti untuk bermain sebentar, kira-kira jam 12 malam. Dingin minta ampun.. Kami pun membeli sekoteng, dan sedikit membantu.

Perjalanan dilanjutkan, kami pun tiba di Darmaga pukul 12.30.

Semua lelah, kami pun beristirahat…

Thx Fami, Putri, Pipit, Dini, Rani, Fida, Kak Rauf untuk jalan-jalannya. Aku suka banget :)

Posted in Entertaint | Tinggalkan komentar

“Mama nangis yaaa???”

Ini catatan yang aku buat beberapa waktu lalu di Facebook-ku..

***

Pagi ini aku mendengarkan sebuah MP3 dan tiba-tiba saja aku teringat kejadian beberapa waktu yang lalu saat aku akan membayar belanjaan di salah satu mini market di daerah Bara, Darmaga. Aku mengantri tepat di belakang seorang ibu yang sedang menggandeng tangan anaknya yang mungkin seusia anak TK. Anak perempuan itu memegang beberapa makanan di tangannya. Lama menunggu antrian, tiba-tiba si anak mengatakan “Ma, mama kenapa?”, si ibu hanya menoleh ke arah anak perempuan itu. “Mama nangis ya?”, si ibu tetap tidak menjawab. Lalu si anak sedikit menarik baju si ibu. “Mama kenapa nangis?” tuntut si anak lagi. “Ga nangis ko”, akhirnya si ibu menjawab juga seraya memegang matanya dengan sebelah tangannya. “Mama nangis ya? Kenapa?”, si anak terus saja menuntut penjelasan dari si ibu. “Ga, mama kelilipan. Sini jajannya, dibayar.”, si ibu mengambil belanjaan dari anak perempuan itu. Anak itu pun diam dengan tetap mengawasi si ibu.

Sepele memang, tapi ada satu hal yang mungkin tidak akan pernah terlupa olehku…
Saat si anak menanyakan kenapa si ibu menangis, tatapannya luar biasa menyorotkan kekhawatiran yang mendalam. Betapa anak sekecil itu bisa menjadi begitu sedih manakala ibunya terlihat berduka.

Lalu, bagaimana dengan kita?
Rindukah kita ketika mengingat betapa begitu banyak air mata yang diteteskan ibu untuk kita…???

Ibuku adalah pahlawanku
Ibuku adalah wanita terkuat
Ibuku adalah idolaku
Ibuku adala orang terhebat di dunia ini

I love my Mom…

Posted in My area.. | Tinggalkan komentar

Cinta..

Awalnya dia slalu aku pandangi, selalu aku banggakan

Bertahun-tahun rasa itu tersimpan di dada

Bahkan mungkin sejak aku belum mengerti apa itu cinta

Meski akhirnya harus terpisah oleh ruang dan waktu

Apakah dia akan tau getaran dalam dada ini?

***

Dia..

Yang sejak pandangan pertama membuat mataku tak ingin lepas darinya

Yang membuat jantungku berdetak walaupun malu ini menggunung

Padanya kuberikan hatiku

Lama sekali rasanya ku pendam semua itu

Sampai akhirnya aku harus menyerah di tengah tajamnya kenanganku tentang dirinya

***

Dan dia..

Yang tiba-tiba datang mengisi kehampaan hatiku

Datang memberikan kebahagiaan dalam setiap denyut jantungku

Selalu bahagia dan ingin berada di sampingnya

Meski hati ini selalu bertanya, apakah dia menginginkanku?

*****

Sungguh tiada hati sanggup melupakan mereka yang terdahulu

Tapi tatkala dia ada di sampingku, seolah-olah tiada kuasa untuk menyisipkan sedikit pun kenangan tentang yang lain

Cinta itu masih ada, masih ada untuk mereka yang pertama dan kedua

Untuk mereka yang pernah singgah di hatiku meski hanya sebatas harapan

Tapi sekarang, dirinya memenuhi pikiranku, merasuk ke dalam aliran darahku

Betapa tiada keberanian memandangnya seperti awal aku mengenalnya

Masih tak sanggup aku menentukan rasa ini

Masih ragu aku untuk menyambut kebahagiaan ini

Aku takut cinta sendiri

Berusaha ku hapus rasa ini

Tapi semakin kuat aku berusaa, semakin menyebar beas hapusan itu

Apakah ini CINTA?

Posted in My area.. | Tinggalkan komentar